menguji kecepatan Google DNS

11 January 2010

Google Public DNS telah dirilis secara resmi tanggal 3 Desember 2009 yang lalu. Dan klaimnya sih lebih cepat dari DNS yang lain. Masuk akal juga mengingat pekerjaan sehari-hari mesin pencari yang dimilikinya memang menyusuri www sehingga sudah terbiasa menangani cache dalam volume yang sangat besar. Tapi apakah memang benar demikian halnya?

Banyak yang telah melakukan pengujian dan mempublikasikan hasilnya di internet. Biasanya yang dijadikan pembanding adalah OpenDNS yang merupakan penyedia layanan DNS paling populer saat ini dan server DNS yang disediakan oleh ISP masing-masing. Dan hasilnya ternyata berbeda-beda, tergantung lokasi dan ISP yang menyediakan layanan internetnya.

Saya pun tertarik untuk mengetahui server DNS yang mana yang paling cepat apabila pengujian itu saya lakukan sendiri sehingga hasilnya akan lebih akurat apabila dibandingkan dengan yang dilakukan di lokasi lain. Pesertanya juga cukup tiga saja, yaitu Google DNS (8.8.8.8 & 8.8.4.4), OpenDNS (208.67.222.222 & 208.67.220.220) dan DNS server milik ISP yang saya gunakan yaitu Icon+ (202.162.220.110 & 202.162.220.220).

Pada mulanya saya bermaksud melakukan pengujian dengan cara yang sederhana saja. Yaitu dengan membuaf file batch berisi perintah nslookup dan perintah untuk mengetahui timestamp-nya. Tapi mengingat bahwa ternyata banyak tool yang tersedia, jadi why bother? Saya memilih untuk menggunakan tiga tool berikut ini: Browsermob DNS Performance Tool V 1.0.1, DNS Benchmark, dan Namebench untuk membandingkan ketiganya. Kecuali untuk Namebench, saya biarkan opsi untuk mengikutkan provider global dan regional, jadi tidak hanya tiga.

Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Browsermob

Starting test...

Test 1: Google
102688 ms for 1000 records
Test 2: Google
126140 ms for 1000 records
Test 3: Google
145985 ms for 1000 records
Test 1: OpenDNS
306171 ms for 1000 records
Test 2: OpenDNS
245313 ms for 1000 records
Test 3: OpenDNS
248656 ms for 1000 records
Test 1: Your DNS
416453 ms for 1000 records
Test 2: Your DNS
333735 ms for 1000 records
Test 3: Your DNS
404125 ms for 1000 records

Juaranya ternyata Google dengan 102,688 ms.

DNS Benchmark

DNS Benchmark

Batang grafik berwarna merah menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan query terhadap nama domain yang telah ada dalam local cache server tersebut (Cached Name). Sementara yang berwarna hijau menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan query terhadap nama domain yang tidak ada dalam local cache server tersebut sehingga harus didapatkan dari nameserver yang lain (Uncached Name) dan yang berwarna biru menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk menentukan alamat IP sebuah nama domain (DotCom Lookup). Dan pemenang lomba kali ini masih Google dengan waktu rata-rata tercepat 124 ms.

Namebench

Namebench

Terakhir, Google masih tetap memimpin dengan 133,51 ms.

Kesimpulan: dari segi kecepatannya, Google DNS memang lebih unggul dari yang lain dan layak untuk dijadikan sebagai alternatif apabila kita membutuhkan DNS yang mendukung kecepatan berselancar di dunia maya.

terima kasih sebelumnya

10 December 2009

Sesekali saat saya mengirim email atau pesan kepada seseorang saya mencantumkan kata-kata “terima kasih sebelumnya”. Hal itu saya lakukan apabila email itu saya kirim untuk meminta orang tersebut melakukan sesuatu. Dan saya pikir orang-orang lain juga menuliskan hal yang sama dalam email mereka. Dalam bahasa Inggris ada “thanks in advance”, sementara di Rusia orang-orang mengatakan ”Заранее спасибо”. Di Spanyol dan Prancis ada ”gracias por adelantado” dan “merci d'avance”. Saya tidak tahu bagaimana mereka mengatakannya dalam bahasa Swahili, tapi mungkin ada juga kata-kata yang kurang lebih sama artinya.

Pertanyaannya adalah apakah sebenarnya kata-kata semacam itu sopan apa tidak? Agak susah untuk mencari referensi dalam bahasa Indonesia, jadi saya memakai sebuah artikel lama yang baru saya temukan di internet berjudul “The do’s and don’ts of saying thank you” oleh Stephen Wilbers sebagai rujukan. Di situ dikatakan:
Don’t use the phrase “thank you in advance” in your complimentary close. It’s standard practice to encourage readers to take a desired action by thanking them before they’ve actually done it, but “in advance” can sound presumptuous.

Persumptouo, eh, presumptuous itu *buka kamus dulu...* artinya lancang. Seolah kita telah yakin bahwa orang tersebut memang akan melakukan apa yang kita minta. Jadi benarkah bahwa itu kurang sopan? Terpengaruh oleh artikel Pak Wilbers, saya pikir jawabannya adalah memang iya. Meski mungkin tidak separah ungkapan “terima kasih atas pengertiannya” ketika sebuah ISP memberitahukan adanya gangguan koneksi internet kepada pelanggannya. Pelanggan tidak pernah ingin menjadi fihak yang penuh pengertian; mereka hanya ingin dilayani dengan sebaik-baiknya.

Kembali ke ”terima kasih sebelumnya”, dalam hal ini saya pikir sah-sah saja orang menggunakan kata-kata itu di email mereka. Toh itu sudah menjadi standar budaya global. Saya tidak bermaksud men-discourage orang, hanya sekedar berbagi kesadaran bahwa ternyata ada pendapat yang berbeda bahkan mengenai hal kecil yang selama ini sudah kita anggap lumrah atau sepele. Dan bukankah sebenarnya kata terima kasih saja sebenarnya sudah cukup mewakili rasa terima kasih kita?

JazakumulLahu khair.

Hal Jazaaul Ihsaan Illal Ihsan

01 May 2009

Seperti biasa, saya sholat Jumat di masjid kantor pajak di jalan Ki Mangunsarkoro. AlhamdulilLah, selama sholat Jumat kali ini saya tidak ngantuk, jadi khutbah yang disampaikan pun bisa saya simak. Isinya menarik. Dan kurang lebih yang masih saya ingat adalah bahwa:
Ciri orang yang beriman itu adalah sebagaimana sabda RasululLah, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin itu, semua urusan adalah kebaikan baginya. Dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya.”
Cara untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan:

  • Memperhatikan kebutuhan orang lain dan berusaha untuk melayani bukan dilayani;
  • Bersikap lemah lembut, santun dan rendah hati;
  • Suka memberikan reward kepada kebaikan yang dilakukan orang lain, sekecil apapun kebaikan itu;
  • Tidak berpaling dari ahli maksiat, sebisa mungkin mengajaknya kepada kebaikan.

Dengan memiliki memiliki kepribadian ini, insyaAllah kita akan cintai oleh Allah.
Khutbah ditutup dengan sebuah ayat dari surat Ar-Rahman yang pernah saya baca dan dengar sebelumnya, tapi entah kenapa kali ini terasa lebih mengena: Hal Jazaaul Ihsaan Illal Ihsan.

peduli Palestina

02 January 2009

Barusan saya mendapatkan sms sepeti ini:

Dukung misi kemanusiaan MER-C ke Palestina, ketik: MERC PEDULI kirim ke 7505 untuk memberikan donasi Rp 5000/sms. Sebarkan.

Saya cek di website-nya MER-C dan ternyata benar. Ini banner iklannya di website tersebut:


Jadi, jangan ragu-ragu untuk sms sebanyak-banyaknya.

panic PIN, true or false?

25 December 2008

Pernah mendapatkan informasi seperti ini?

Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang untuk mengeluarkan uang dari atm, maka anda bisa minta pertolongan diam-diam dengan memberikan nomor pin secara terbalik, misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan mengeluarkan uang anda juga tanda bahaya Ke kantor polisi tanpa diketahui pencuri tsb. Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu kepada yang lain.

Silakan baca Snopes.com: Pinned Hopes. Menurut artikel itu, teknologi semacam ini memang sempat dipatenkan pada tahun 1998 di Amerika namun sampai saat ini industri perbankan tidak pernah berminat untuk mengimplementasikannya.

Belief-O-Matic

17 December 2008

Ini adalah hasil yang saya dapatkan di kuis Belief-O-Matic, sebuah kuis online di situs beliefnet.com:
1. Islam (100%)
2. Orthodox Judaism (100%)
3. Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (Mormons) (95%)
4. Reform Judaism (91%)
5. Sikhism (89%)
6. Jehovah's Witness (86%)
7. Liberal Quakers (76%)
8. Jainism (75%)
9. Orthodox Quaker (73%)
10. Baha'i Faith (70%)
11. Unitarian Universalism (69%)
12. Mainline to Liberal Christian Protestants (67%)
13. Mainline to Conservative Christian/Protestant (67%)
14. Hinduism (62%)
15. Mahayana Buddhism (60%)
16. Eastern Orthodox (55%)
17. Roman Catholic (55%)
18. Neo-Pagan (53%)
19. New Age (47%)
20. Theravada Buddhism (46%)
21. Seventh Day Adventist (46%)
22. Scientology (43%)
23. New Thought (39%)
24. Secular Humanism (36%)
25. Christian Science (Church of Christ, Scientist) (32%)
26. Taoism (23%)
27. Nontheist (21%)
Skor teratas adalah tebakan Belief-O-Matic tentang apa agama saya, sementara dua puluh enam yang lain menunjukkan tingkat kesamaan menurut situs tersebut antara agama itu dengan konsep keimanan yang saya miliki.
Tebakan itu benar. AlhamdulilLah.

akhirnya



Akhirnya kesampaian juga keinginan saya selama ini untuk memiliki koneksi internet sendiri. Sudah seminggu ini saya menggunakan broom unlimited, layanan internet prabayar dari INDOSATM2. Ini screenshoot hasil test kecepatannya (Saya menggunakan modem PCMCIA Merlin U530 dan kebetulan mendapatkan sinyal 3G):
Hasil Speed Test Broom Unlimited
Dengan harga yang terjangkau, cukup Rp 100.000,- untuk pemakaian selama sebulan dan kecepatan koneksi yang tidak mengecewakan (kalau hanya untuk sekedar browsing) seperti ini, mengapa tidak?